● Infeksi cacing gelang Strongyloides stercoralis picu strongyloidiasis yang menyebabkan gangguan pencernaan, hingga kematian.

● Selain strongyloidiasis, peneliti menemukan kasus cacingan lain di Kalimantan Selatan.

● Kondisi sosial dan lingkungan setempat memperbesar risiko masyarakat terkena cacingan.

 

Cacingan bukanlah masalah sepele. Tanpa disadari, infeksi cacing parasit tertentu bisa merusak organ tubuh anak maupun dewasa, bahkan berisiko memicu kematian.

Salah satu yang berbahaya adalah infeksi cacing gelang Strongyloides stercoralis yang menyebabkan strongyloidiasis. Meski sering kali tidak menimbulkan gejala, dalam beberapa kasus jenis penyakit infeksi parasit ini bisa menyebabkan penyintas mengalami sakit perut, diare, sesak napas, dan muntah.

Saat jumlah cacing S. stercoralis dalam tubuh makin banyak dan tidak terkendali, hiperinfeksi bisa terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti malabsorbsi (gangguan penyerapan nutrisi di usus), pneumonia (radang paru), hingga meningitis (radang selaput otak dan saraf tulang belakang).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, mengatakan bahwa 90% kasus hiperinfeksi strongyloidiasis bisa berujung kematian.

Hingga tahun 2021, strongyloidiasis telah menyerang lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia. Sayangnya, kasus cacingan ini belum tercatat dengan baik di Indonesia. Namun, penelitian kami tahun 2024 menemukan empat kasus strongyloidiasis pada orang usia 40-70 tahun di Kalimantan Selatan (Kalsel)—setelah laporan terakhir pada periode 1970-an.

Kondisi sosial dan lingkungan berpengaruh

Kondisi alam Kalimantan Selatan—yang dikelilingi sungai, didominasi rawa, tanah gembur, serta curah hujan dan kelembapan tinggi—sangat ideal bagi pertumbuhan cacing seperti S. stercoralis.

Kami menyelidiki kasus cacingan di kawasan ini dengan meneliti tinja 244 warga berusia 5-80 tahun di Desa Tambak Danau, Kalsel.

Kondisi lahan persawahan di Kalimantan Selatan yang berair, bertekstur tanah gembur, dan sedikit berlempung jadi lingkungan yang baik bagi perkembangan ‘Strongyoides stercoralis’. Authors provided.

Selain mendapati kasus infeksi cacing gelang S. stercoralis, kami menemukan sembilan warga terinfeksi cacing gelang Ascaris lumbricoides, empat orang terinfeksi cacing tambang, dan satu orang terinfeksi cacing cambuk Trichuris trichiura.

Infeksi keempat cacing parasit tersebut bisa membahayakan kesehatan, terutama kelompok rentan dengan kekebalan rendah, seperti anak-anak dan lansia.

 

Infeksi Ascaris lumbricoides, misalnya, menyebabkan kakak-adik balita asal Seluma, Bengkulu mengalami cacingan parah hingga sesak napas. Kasus serupa bahkan memicu kematian seorang balita di Sukabumi, Jawa Barat pada Agustus 2025 lalu.

Penampakan cacing ‘Strongyloides stercoralis’ melalui mikroskop. Authors Provided.

Larva kemudian bergerak melalui aliran darah, memasuki paru-paru, melewati kerongkongan hingga ke dalam mulut, lalu tertelan masuk ke dalam perut.

Selanjutnya, larva cacing memasuki usus halus hingga tumbuh dewasa, bertelur, dan melahirkan larva baru yang menginfeksi tubuh kembali (autoinfeksi). Cacing pun dapat bertahan hidup dan terus menginfeksi inangnya selama beberapa dekade.

 

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa keempat warga yang mengalami strongyloidiasis berprofesi sebagai petani yang terbiasa bertelanjang kaki ketika ke sawah. Mereka juga mengalami gejala yang mirip selama lebih dari sebulan, seperti sering merasakan sakit perut, kulit gatal, kembung, mudah lelah, mengeluarkan tinja lembek, serta kesemutan di kaki dan leher.